(Doc-nixnews)
Jakarta, bukaberita.co.id – Gedung Putih menyatakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden China, Xi Jinping, sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka demi menjaga kelancaran distribusi energi global. Kesepakatan tersebut ia sampaikan usai pertemuan kedua pemimpin negara di Beijing pada Kamis (14/5/2026).
“Kedua pihak sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk mendukung arus energi yang bebas,” kata Gedung Putih, Kamis.
Ketegangan di kawasan Selat Hormuz meningkat sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Iran pada akhir Februari lalu. Selama konflik berlangsung, Iran memblokir aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas dunia.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap China yang selama ini bergantung pada pasokan minyak mentah dari Timur Tengah. Sebagian besar impor energi Beijing melintasi Selat Hormuz.
Gedung Putih juga mengklaim Xi Jinping tertarik meningkatkan pembelian minyak dari Amerika Serikat. Hal ini guna mengurangi ketergantungan China terhadap jalur distribusi energi melalui Selat Hormuz di masa mendatang.
Namun, pemerintah China tidak secara spesifik membenarkan pernyataan tersebut. Kementerian Luar Negeri China hanya menyebut pembicaraan kedua pemimpin mencakup sejumlah isu internasional dan regional.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, juga telah membahas situasi Selat Hormuz April lalu. Dalam percakapan itu, kedua negara sepakat bahwa tidak boleh ada pihak yang mengenakan tarif untuk melintasi jalur perairan internasional tersebut.
Sementara itu, Juru Bicara Kedutaan Besar China untuk Amerika Serikat, Liu Pengyu, menegaskan pentingnya menjaga keamanan kawasan dan kelancaran jalur pelayaran internasional. “Menjaga keamanan dan stabilitas wilayah serta memastikan kelancaran lalu lintas merupakan kepentingan bersama komunitas internasional,” kata Juru Bicara Kedubes China.
