(Doc-Istimewa)
Karawang, bukaberita.co.id — Temuan ulat pada menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 2 Karawang, Jawa Barat, memicu perhatian pihak sekolah. Menindaklanjuti kejadian tersebut, pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangpawitan 4 berencana mengganti menu sayur sawi.
Humas SMKN 2 Karawang, Susi, menjelaskan bahwa seorang siswa pertama kali melaporkan temuan ulat pada daun sayur yang di terima. Guru yang menerima laporan langsung melarang siswa tersebut memakan sayur itu.
“Saya tanyakan kejadiannya, ada seorang siswa melapor sayurnya di daunnya ada ulat. Saat melaporkan tadi pihak guru langsung melarang dimakan sayur tersebut,” katanya, Kamis (8/10).
Setelah menerima laporan, pihak sekolah segera menghubungi pengelola SPPG Karangpawitan 4. Sekolah meminta pengelola memperketat pengawasan kualitas atau quality control (QC) sebelum membagikan makanan kepada siswa.
“Pihak terkait dari sekolah langsung konfirmasi ke SPPG untuk meningkatkan QC-nya,” ujarnya.
Susi menyebut temuan tersebut berkaitan dengan dua ompreng makanan. Pihak sekolah kemudian mengganti makanan siswa dengan ompreng baru agar mereka tetap bisa mengikuti program MBG.
“Ada dua ompreng. Anak langsung ganti ompreng-nya dengan yang baru dan makan MBG seperti biasa,” ujarnya.
Sementara itu, Asisten Lapangan atau PIC SPPG Karangpawitan 4, Nani, membenarkan temuan ulat pada sayur dalam menu MBG. Ia menyampaikan penjelasan tersebut bersama Kepala SPPG, Burhanudin.
“Kita sudah datang ke sekolah dan sudah menyelesaikannya. Ulat tersebut terdapat pada sayur sawi,” ujar Nani.
Nani juga menjelaskan bahwa pihaknya akan mengganti menu sawi untuk sementara waktu. Langkah tersebut bertujuan mencegah siswa merasa takut atau trauma setelah kejadian itu.
“Untuk mencegah trauma, sementara kita akan menggunakan menu sayur selain sawi,” katanya.
Sebelumnya, pihak SPPG menilai kemunculan ulat pada sayuran sebagai hal yang wajar karena bahan makanan tidak mengandung bahan kimiawi. Meski demikian, pihak sekolah meminta pengelola meningkatkan pengawasan kualitas makanan agar kejadian serupa tidak terulang.
