Rabu, Mei 27, 2026
BerandaDAERAHTradisi Ngejot Tetap Hidup di Bali, Warga Hindu dan Muslim Saling Berbagi...

Tradisi Ngejot Tetap Hidup di Bali, Warga Hindu dan Muslim Saling Berbagi saat Iduladha

(Doc-Tirtoid)

Bali, bukaberita.co.id – Tradisi ngejot kembali mewarnai perayaan Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah di Bali, Rabu (27/5). Tradisi saling berbagi makanan dan hasil bumi ini terus dilestarikan sebagai simbol toleransi, kepedulian sosial, serta penguat hubungan antarumat beragama.

Dalam praktiknya, ngejot dilakukan dengan memberikan makanan kepada tetangga tanpa memandang latar belakang agama maupun suku. Tradisi ini telah lama dijalankan oleh masyarakat Hindu dan Muslim di Bali sebagai bentuk rasa syukur, terima kasih, dan upaya menjaga keharmonisan sosial.

Bagi umat Hindu, tradisi ngejot lazim dilakukan menjelang Hari Raya Galungan, Nyepi, dan Kuningan. Sementara bagi umat Islam, tradisi tersebut umumnya dijalankan menjelang Idulfitri maupun Iduladha.

Di sejumlah wilayah Bali, warga Muslim membagikan daging kurban serta makanan kepada masyarakat sekitar sebagai bagian dari semangat berbagi pada momentum Iduladha. Tradisi serupa juga tetap hidup di Desa Pegayaman, Kabupaten Buleleng. Di wilayah tersebut, warga Hindu dan Muslim saling bertukar makanan siap saji, kue, hingga buah-buahan dengan tetangga sekitar.

Ketua DPW LDII Provinsi Bali, Olih Solihat Karso, mengatakan tradisi ngejot dipertahankan untuk menjaga persaudaraan dan kerukunan di tengah keberagaman masyarakat Bali.

“Kami sebagai orang Muslim harus dekat dengan orang. Semuanya kita jaga kerukunan, ketertiban, dan tetap menyama braya atau bersaudara,” kata Olih.

Selain menjadi simbol toleransi, tradisi ngejot juga dinilai memiliki nilai kepedulian sosial, khususnya bagi warga yang membutuhkan bahan makanan saat perayaan Iduladha.

Salah seorang penerima daging kurban, Endang, mengatakan tradisi berbagi tersebut hampir rutin dilakukan setiap tahun di Kelurahan Padang Sambian, Kota Denpasar.

Menurutnya, hubungan sosial antarwarga di lingkungannya telah terjalin sangat erat meski masyarakat berasal dari latar belakang yang berbeda. “Kita sudah seperti saudara,” ungkapnya singkat.

Hingga kini, tradisi ngejot masih menjadi gambaran kuatnya kerukunan antarumat beragama sekaligus menunjukkan eratnya persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments