Doc-Istimewa)
Jakarta, bukaberita.co.id – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengungkap kronologi meninggalnya dokter magang lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya berinisial MAA yang diduga mengalami kelelahan akibat beban kerja selama menjalani program magang. Plt Inspektur Jenderal Kemenkes, Rudi Supriatna Nata Saputra, mengatakan MAA awalnya dinyatakan sehat setelah menjalani medical check up sebelum mengikuti program magang.
“Sejak tanggal 11 Agustus 2025-10 Februari 2026, MAA menjalani intenship di Puskesmas Kuala Tungkal II, yang bersangkutan dalam kondisi sehat,” ungkap Rudi, Kamis (7/5).
Pada Februari 2026, MAA mulai menjalani praktik di instalasi gawat darurat RSUD KH Daud Arief.
Rudi menjelaskan, pada 26 Maret 2026 MAA mulai mengeluhkan kondisi tubuh yang kurang sehat dengan gejala demam, batuk, dan pilek. Namun saat itu ia masih melakukan pengobatan mandiri. “Yang bersangkutan menjalani pengobatan mandiri, keluhan ini terus berlanjut di tanggal 31 Maret 2026, kondisinya masih demam, batuk, pilek dan jaga malam,” ujarnya.
Pada 31 Maret 2026, para dokter magang diketahui sempat dikumpulkan oleh dokter pendamping untuk membahas kritik peserta mengenai sistem magang yang diunggah melalui media sosial dan situs pengaduan.
Meski kondisi kesehatannya belum membaik, MAA masih tetap berjaga hingga 11 April 2026. Dua hari kemudian, ia disebut harus mendapatkan infus.
Kondisinya semakin memburuk pada 15 April 2026 hingga sempat mengirim pesan suara kepada rekannya. “Aku enggak kuat, Astri,” ucap MAA ke rekannya.
Pada periode 15 hingga 20 April 2026, MAA menjalani perawatan di rumah sakit tempatnya bertugas dan diperbolehkan pulang pada 21 April 2026. Namun di hari yang sama, kondisi MAA kembali mengalami demam sehingga dirujuk ke RSUD Raden Mattaher tanpa menggunakan ambulans maupun prosedur rujukan resmi.
“Sekitar 3 hari dirawat, diperbolehkan pulang oleh dokter penanggungjawab di Rumah Sakit Mattaher Jambi,” kata Rudi.
MAA dijadwalkan menjalani kontrol kesehatan di poli paru pada 29 April 2026. Akan tetapi, pada 24 hingga 26 April 2026 kondisinya kembali menurun dan mengalami demam tinggi saat perjalanan pulang.
Ia kemudian dilarikan ke RSUP Dr Mohammad Hoesin dan sempat dirawat di ruang isolasi infeksi sebelum dipindahkan ke ICU karena mengalami gangguan pernapasan yang semakin berat.
