(Doc-nixnews)
Jakarta, bukaberita.co.id – Insiden yang menewaskan tiga prajurit TNI di Lebanon selatan saat menjalankan misi sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) memicu perhatian internasional. Dewan Keamanan PBB pun menggelar pertemuan darurat pada Selasa atas permintaan Prancis.
Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, sebelumnya telah mendesak dilakukannya pertemuan tersebut menyusul insiden yang menimpa personel TNI di wilayah konflik.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menuding adanya pelanggaran keamanan dan intimidasi terhadap kontingen UNIFIL, termasuk pasukan Prancis yang bertugas di Naqura.
Berdasarkan keterangan sumber keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang tidak ingin diungkap identitasnya, tiga prajurit TNI gugur dalam dua insiden terpisah pada 29 dan 30 Maret 2026. Satu prajurit, Praka Farizal Rhomadhon, tewas dalam serangan yang terjadi di pos unit Indonesia dekat desa Adchit Al Qusayr pada Minggu (29/3). Sumber tersebut menyebutkan bahwa korban terkena tembakan tank militer Israel.
Sementara itu, dua prajurit lainnya, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan, gugur sehari setelahnya saat kendaraan TNI melintas di dekat Bani Hayyan. Keduanya diduga menjadi korban ledakan yang kemungkinan berasal dari ranjau.
Selain menewaskan tiga prajurit, dua insiden tersebut juga menyebabkan lima personel lainnya mengalami luka-luka. Pihak PBB saat ini telah memulai penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti dari insiden tersebut.
Di sisi lain, militer Israel membantah keterlibatan dalam kematian tiga prajurit TNI tersebut. Mereka menyebut insiden terjadi di wilayah pertempuran aktif antara pasukan Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
“Oleh karena itu, tidak seharusnya diasumsikan bahwa insiden yang menimpa personel UNIFIL disebabkan oleh IDF,” demikian pernyataan IDF di Telegram.
Israel juga mengklaim telah melakukan penyelidikan internal dan menyatakan tidak bertanggung jawab atas insiden yang terjadi pada Senin (30/3). “Pemeriksaan operasional komprehensif menunjukkan bahwa tidak ada alat peledak yang ditempatkan di area tersebut oleh pasukan IDF, dan tidak ada sama sekali pasukan IDF di area tersebut,” demikian pernyataan terbaru IDF.
