(Doc-Istimewa)
Jakarta, bukaberita.co.id – Pada Kamis (22/1/2026), menurut Bloomberg, rupiah naik 0,17 persen atau 28 poin menjadi Rp16.907 per dolar AS. Di mana, nilai tukar rupiah melanjutkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan.
Di samping itu, rupiah naik 0,12 persen ke posisi Rp16.936 per dolar AS pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya. Ini setelah Bank Indonesia (BI) mengumumkan mempertahankan suku bunga 4,75 persen pada Januari 2026.
Di siai lain, para analis memperkirakan berlanjutnya penguatan rupiah. “Rupiah berpotensi menguat karena meredanya tensi antara AS dan Eropa,” ujar analis pasar uang, Lukman Leong, Kamis (22/1/2026).
Kekhawatiran pasar berkurang setelah Presiden AS, Donald Trump menarik ancaman tarif kepada Uni Eropa. Semula ini akan berlaku jika tidak menyerahkan Greenland pada AS.
Meski begitu, Lukman melihat penguatan ini masih akan terbatas mengingat masih lemahnya sentimen domestik. Menurut dia, rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.850-17.000 per dolar AS.
Tim Analis Mirae Asset Sekuritas juga mencermati kebijakan BI mempertahankan suku bunga per Januari 2026. “Tekanan terhadap rupiah sepanjang Januari menjadi salah satu pertimbangan utama mempertahankan BI Rate,” ucap Ekonom Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto.
Menurut dia, langkah BI juga bertujuan menjaga daya tarik imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Terutama terhadap surat obligasi AS (US Treasuries).
Upaya tersebut diharapkan juga dapat menstabilkan arus modal portofolio asing. “Sehingga ruang pelonggaran suku bunga dalam jangka pendek tetap terbatas,” tuturnya.
