Rabu, Agustus 19, 2026
BerandaPERISTIWASungai Mahakam Menyusut Akibat Kemarau, Aktivitas Warga hingga Jalur Tongkang Terhambat

Sungai Mahakam Menyusut Akibat Kemarau, Aktivitas Warga hingga Jalur Tongkang Terhambat

(Doc-nixnews)

Kutai Barat, bukaberita.co.id – Musim kemarau menyebabkan debit air Sungai Mahakam di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, mengalami penyusutan. Kondisi tersebut mulai berdampak terhadap aktivitas masyarakat hingga jalur transportasi sungai.

Sungai Mahakam selama ini dikenal sebagai habitat pesut Mahakam serta berbagai jenis burung dan fauna perairan lainnya. Selain itu, sungai tersebut juga menjadi salah satu jalur utama untuk mengangkut hasil tambang dengan kapal tongkang yang melintas hampir setiap hari.

Pantauan pada Selasa (18/8/2026) menunjukkan, penyusutan air membuat hamparan pasir di kawasan Melak Ilir semakin luas. Kondisi itu kemudian dimanfaatkan warga sebagai lokasi rekreasi.

“Anak-anak biasanya datang sore hari untuk bermain dan berenang. Sekarang suasananya seperti pantai. Warga datang bukan hanya untuk berenang, tapi juga duduk-duduk menikmati sore,” kata Medot, warga Kutai Barat, Selasa (18/8).

Surutnya air juga membuat sebagian dasar Sungai Mahakam mulai terlihat. Bahkan, sejumlah kapal atau perahu yang sebelumnya karam dapat terlihat dengan jelas.

Ramainya warga yang datang ke kawasan tersebut turut memberikan keuntungan bagi pedagang. Namun, aktivitas tersebut juga menimbulkan persoalan baru berupa sampah yang berserakan di sekitar lokasi.

“Kalau bisa tempat ini lebih diperhatikan, terutama kebersihannya, karena masih ada sampah yang berserakan,” kata Dhea, warga Kutai Barat.

Di sisi lain, kondisi Sungai Mahakam yang semakin dangkal mulai mengganggu transportasi masyarakat dan distribusi logistik dari Kutai Barat menuju Mahakam Ulu.

Plt Kepala Dinas Perhubungan Kutai Barat Rita Nursandy mengatakan, kapal motor yang membawa barang dan penumpang dari Samarinda saat ini hanya dapat mencapai Long Iram.

“Kalau kapal motor yang mengangkut barang dan penumpang dari Samarinda, saat ini hanya sampai Long Iram. Tidak sampai Mahulu (Mahakam Ulu) karena sudah tidak memungkinkan melanjutkan perjalanan,” ujar Rita.

Kemunculan bebatuan di dasar sungai juga membuat kapal berukuran besar, termasuk tongkang, kesulitan melintas.

“Kalau tongkang, jelas tidak bisa (melintas). Bisa sangkut,” katanya.

Menurut Rita, kondisi penyusutan debit air tersebut semakin terasa dalam satu hingga dua pekan terakhir. Meski demikian, penurunan permukaan air Sungai Mahakam disebut telah berlangsung sekitar satu bulan.

Terhambatnya transportasi sungai membuat jalur darat menjadi salah satu alternatif untuk mobilitas masyarakat dan distribusi barang.

“Kalau transportasi sungai tidak bisa dilewati, otomatis lewat darat. Apalagi musim kemarau seperti sekarang, tidak hujan sehingga jalan tidak becek,” jelasnya.

Namun, akses darat menuju Mahakam Ulu masih menghadapi kendala lantaran sejumlah infrastruktur jalan tengah dalam proses perbaikan.

Sementara itu, transportasi udara dinilai menjadi pilihan yang lebih menguntungkan untuk mobilitas masyarakat. Pengangkutan barang dalam jumlah besar melalui jalur udara pun bukan menjadi pilihan utama sehingga kondisi surutnya Sungai Mahakam berpotensi terus memengaruhi distribusi logistik di wilayah tersebut.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular