(Doc-Istimewa)
Sydney, mediasatu.co.id – Aparat keamanan Australia terus mendalami motif di balik penembakan massal di Pantai Bondi, Sydney, yang melibatkan dua pelaku ayah dan anak. Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyatakan, indikasi awal menunjukkan pelaku dipengaruhi ideologi Islamic State atau ISIS.
“Antisemitisme, tentu saja, telah ada sejak lama itulah intinya. ISIS adalah ideologi yang secara tragis, selama dekade terakhir, khususnya sejak 2015, telah menyebabkan radikalisasi sebagian orang ke posisi ekstrem ini, dan itu adalah tindakan yang penuh kebencian,” kata Albanese dikutip CNN, Selasa (16/12/2025).
Insiden tersebut dilakukan oleh Sajid Akram (50) dan putranya, Naveed Akram (24). Dalam kejadian itu, Sajid tewas ditembak aparat, sedangkan Naveed mengalami luka dan kini dirawat dengan status tahanan di rumah sakit.
Penyelidikan kepolisian New South Wales menemukan kendaraan yang terdaftar atas nama Naveed Akram. Di dalam kendaraan tersebut, polisi mendapati alat peledak rakitan serta atribut yang diduga terkait ISIS.
“Saya juga mengonfirmasi bahwa kendaraan itu berisi dua bendera ISIS buatan sendiri,” kata Mal Lanyon, Komisaris Kepolisian New South Wales, dikutip dari NPR.
Meski demikian, pihak berwenang menyatakan tidak ada indikasi bahwa kedua pelaku merupakan bagian dari jaringan teror yang lebih besar. Sajid diketahui memiliki izin kepemilikan senjata api dan tidak menunjukkan tanda-tanda radikalisasi.
Berbeda dengan ayahnya, Naveed Akram pernah menjadi perhatian aparat intelijen. Ia sempat diselidiki oleh ASIO pada 2019 selama enam bulan dalam sebuah kasus tertentu.
Polisi juga menaruh perhatian pada perjalanan keluarga Akram ke Filipina yang dilakukan pada November lalu.
“Alasan mengapa mereka pergi ke Filipina, tujuan dari kunjungan itu, dan ke mana mereka pergi saat berada di sana sedang dalam penyelidikan saat ini,” kata Mal Lanyon, pada Selasa.
Biro Imigrasi dan Deportasi Filipina menyebut keluarga Akram tiba di Filipina pada 1 November 2025 dengan tujuan ke Davao, Mindanao. Mereka kemudian tercatat meninggalkan negara tersebut melalui Manila pada 28 November 2025.
